<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>RIDHS JOGJA</title>
	<atom:link href="http://ridhs30.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ridhs30.wordpress.com</link>
	<description>WELCOME TO MY BLOG</description>
	<lastBuildDate>Sat, 14 May 2011 15:00:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ridhs30.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>RIDHS JOGJA</title>
		<link>http://ridhs30.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ridhs30.wordpress.com/osd.xml" title="RIDHS JOGJA" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ridhs30.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>TAREKAT NAQSYABANDIYAH 1/4</title>
		<link>http://ridhs30.wordpress.com/2010/09/06/tarekat-naqsyabandiyah-14/</link>
		<comments>http://ridhs30.wordpress.com/2010/09/06/tarekat-naqsyabandiyah-14/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Sep 2010 05:18:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridhs30</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ridhs30.wordpress.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Naqsyabandiyah merupakan salah satu tarekat sufi yang paling luas penyebaran nya, dan terdapat banyak di wilayah Asia Muslim ( meskipun sedikit di antara orang- orang Arab) serta Turki, Bosnia- Herzegovina, dan wilayah Volga Ural. Bermula di Bukhara pada akhir abad ke-14 , Naqsyabandiyah mulai menyebar ke daerah-daerah tetangga dunia Muslim dalam waktu seratus tahun. Perluasannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridhs30.wordpress.com&amp;blog=15344603&amp;post=54&amp;subd=ridhs30&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Naqsyabandiyah merupakan salah  satu tarekat sufi yang paling luas  penyebaran nya, dan terdapat  banyak di wilayah Asia Muslim ( meskipun sedikit di antara orang- orang Arab) serta Turki, Bosnia- Herzegovina, dan wilayah Volga  Ural. Bermula di Bukhara pada akhir abad ke-14 ,  Naqsyabandiyah mulai menyebar  ke daerah-daerah tetangga dunia  Muslim dalam waktu seratus tahun.<span id="more-54"></span> Perluasannya mendapat dorongan  baru dengan munculnya cabang  Mujaddidiyah, dinamai menurut  nama Syekh Ahmad Sirhindi  Mujaddidi Alf-i Tsani (&#8220;Pembaru  Milenium kedua&#8221;, w. 1624).  Pada  akhir abad ke-18 , nama ini hampir  sinonim dengan tarekat tersebut di seluruh Asia Selatan, wilayah  Utsmaniyah, dan sebagian besar  Asia Tengah. Ciri yang menonjol  dari Tarekat Naqsyabandiyah  adalah diikutinya syari&#8217;at secara  ketat, keseriusan dalam beribadah  menyebabkan penolakan terhadap musik dan tari, serta lebih  mengutamakan berdzikir dalam  hati, dan kecenderungannya  semakin kuat ke arah keterlibatan  dalam politik (meskipun tidak  konsisten). Sejarah Kebanyakan orang  Naqsyabandiyah Mujaddidiyah  dalam dua abad ini menelusuri  keturunan awal mereka melalui  Ghulam Ali (Syekh Abdullah Dihlavi [m. 1824 ]), karena pada awal abad ke-19  India adalah pusat  organisasi dan intelektual utama  dari tarekat ini. Khanaqah ( pondok) milik Ghulam Ali di Delhi  menarik pengikut tidak hanya dari  seluruh India, tetapi juga dari  Timur Tengah dan Asia Tengah.  Hingga kini Khanaqah masih tetap  (pernah mengalami masa tidak  aktif akibat perampasan Delhi oleh orang Inggris pada tahun 1857).  Namun fungsi Pan-Islami-nya  sebagian besar diwarisi oleh para  wakil dan pengganti Ghulam Ali  yang menetap di tempat-tempat  lain di Dunia Muslim. Yang  terpenting adalah para syekh yang tinggal di Makkah dan Madinah:  kedua kota suci ini menyebarkan  Tarekat Naqsyabandiyah di banyak tanah Muslim sampai terjadinya  penaklukan Hijaz oleh kaum  Wahabiyah pada 1925 , yang  mengakibatkan dilarangnya  seluruh aktivitas sufi. Demikianlah, Muhammad Jan Al-Makki (w. 1852) , wakil Ghulam Ali di Makkah,  menerima banyak peziarah Turki  dan Basykir, yang kemudian  mendirikan cabang-cabang baru  Naqsyabandiyah di kampung  halamannya. Pengganti Ghulam Ali yang pertama di Khanaqah Delhi,  Abi Sa&#8217;id, melewatkan beberapa  waktu di Hijaz untuk menerima  pengikut baru. Anak dan pengganti Abu Sa&#8217;id, Syekh Ahmad Sa&#8217;id,  memilih tinggal di Madinah  setelah suatu peristiwa besar pada tahun 1857 , memindahkan arah  Naqsyahbandiyah India ke Hijaz  untuk sementara. Ketiga putra  Ahmad Sa&#8217;id sama-sama  memperoleh warisannya: dua  orang pergi ke Mekkah dan  menarik pengikut dari India serta  Turki di sana. Sementara yang  ketiga, Muhammad Mazhhar, tetap di Madinah dan mengelola  pengikut yang terdiri dari ulama  dan pengikut dari India, Turki  Daghestan, Kazan, dan Asia  Tengah. Namun, yang paling  penting dari pengikut Muhammad  Mazhhar adalah seorang Arab,  Muhammad Salih al-Zawawi dan  murid-muridnya yang tidak  merasakan kebencian, yang  umumnya ditujukan kepada Ulama Pribumi terhadap orang-orang non  Arab dalam masyarakat mereka.  Sebagai guru fiqih Syafi&#8217;i, dia  memiliki akses khusus terhadap  orang-orang Indonesia dan orang- orang Melayu yang berkumpul di  Hijaz, serta berkat al-Zawawi dan  murid-muridnyalah  Naqsyabandiyah dikenal secara  serius di Asia Tenggara. Di  Pontianak di pantai barat  Kalimantan, masih terdapat  berbagai jejak garis  Naqsyabandiyah yang terpancar  dari Hijaz ini. Dorongan yang membawa  Naqsyabandiyah ke zaman modern berasal dari pengganti Ghulam Ali  yang lainnya. Maulana Khalid al- Bagdhadi (w. 1827).  Beliau  mempunyai peranan yang penting  di dalam perkembangan tarekat ini sehinga keturunan dari para  pengikutnya dikenal sebagai kaum Khalidiyah, dan dia kadang-kadang dipandang sebagai &#8220;Pemburu&#8221; ( Mujaddid) Islam pada abad ke-13 ,  sebagaimana Srihindi dipandang  sebagai pemburu Milenium kedua.  Khalidiyah tidak terlalu berbeda  dengan para leluhurnya  Mujaddidiyah. Yang baru adalah  usaha Maulana Khalid untuk  menciptakan tarekat yang terpusat dan disiplin, terfokus pada dirinya  pribadi, dengan cara   ibadah   yang disebut Rabithah (&#8220;petautan&#8221; ) atau konsentrasi pada citra  Maulana Khalid sebelum berdzikir.  Usaha ini selanjutnya terkait  dengan sikap politik, aktivitas,  yang bertujuan untuk  mengamankan supremasi syari&#8217;at  dalam masyarakat Muslim dan  menolak agresi Eropa. Setelah  kematian Maulana Khalid, tidak  ada kepemimpinan yang terpusat,  tetapi sikap politik yang mendasari upaya tersebut tetap hidup. Lahir di Distrik Syahrazur di  Kurdistan Selatan pata 1776 ,  Maulana Khalid melewatkan waktu sekitar satu tahun bersama  Ghulam Ali di Delhi sebelum  kembali ke kampung halamannya  pada 1881  dengan &#8220;wewenang  lengkap dan mutlak&#8221; sebagai  wakilnya. Sebelum meninggalkan  Delhi, Maulana Khalid memberi  tahu gurunya bahwa tujuan  utamanya adalah untuk &#8220;mencari  dunia ini demi agama&#8221;, dari tiga  tempat tinggalnya setelah itu  Sulaimaniyah, Bagdad dan  Damaskus, beliau mendirikan  jaringan 116  wakil, yang masing- masing dengan tanggung jawab  yang jelas batas geografisnya.  Murid-muridnya mencakup tidak  hanya anggota-anggota hierarki  agama pemerintahan &#8221; Utsmaniyah&#8221;, tetapi juga sejumlah  gubernur provinsi dan tokoh militer yang sangat penting dalam  memajukan wibawa Khalidiyah  adalah wakil kedua Maulana  Khalid di Istambul, Abdul al- Wahhab al-Susi, yang merekrut  Makkizada Musthafa Asim, syekh   al-Islam  masa itu ke dalam  tarekat ini. Usaha untuk meraih  pengaruh atas kebijakan  Utsmaniyah yang disiratkan oleh  berbagai upaya ini tidak pernah  benar-benar berhasil.  Namun, terjadi semacam  penyejajaran antara Khalidiyah  dengan negara Utsmaniyah pada  masa pemeritahan Abdulhamid II,  yang berteman dengan Khalidiyah  terkemuka di Istambul, Ahmed  Ziyauddin Gumushanevi (w. 1893).  Kepentingan Gumushanevi jauh  mentransendenkan yang politis:  tulisannya yang dimiliki banyak  mengenai sufisme pada umumnya  dan Naqsyabandiyah pada  khususnya, mewakili puncak sastra  sufi Utsmaniyah besar yang  terakhir. Sebaliknya, Adbulhamid  sangat ditentang oleh Syekh  Naqsyabandiyah yang menonjol  lainnya, Muhamad As&#8217;ad dari Ibril  wilayah Irak Utara.</p>
<br />Filed under: <a href='http://ridhs30.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ridhs30.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ridhs30.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ridhs30.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ridhs30.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ridhs30.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ridhs30.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ridhs30.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ridhs30.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ridhs30.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ridhs30.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ridhs30.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ridhs30.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ridhs30.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ridhs30.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridhs30.wordpress.com&amp;blog=15344603&amp;post=54&amp;subd=ridhs30&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ridhs30.wordpress.com/2010/09/06/tarekat-naqsyabandiyah-14/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c4d046eaa938baf42de7751bcc9752fa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ridhs30</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TAREKAT NAQSYABANDIYAH 2/4</title>
		<link>http://ridhs30.wordpress.com/2010/09/06/tarekat-naqsyabandiyah-24/</link>
		<comments>http://ridhs30.wordpress.com/2010/09/06/tarekat-naqsyabandiyah-24/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Sep 2010 05:10:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridhs30</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ridhs30.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Pengaruh Maulana Khalid mungkin paling nampak di kampung halamannya, Kurdistan. Cabang Naqsyabandiyah yang beliau perkenalkan di sana sepenuhnya memudarkan pengaruh &#8221; Qadiriyah&#8221;, yang sebelumnya merupakan tarekat paling menonjol di wilayah Kurdistan, dan memunculkan sejumlah keluarga sebagai pemimpin turunan tarekat itu, serta memegang kepemimpinan dalam urusan negara Kurdistan. Hubungan keturunan Naqsyabandiyah dengan separatisme Kurdistan, dan kemudian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridhs30.wordpress.com&amp;blog=15344603&amp;post=52&amp;subd=ridhs30&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengaruh Maulana Khalid mungkin paling nampak di kampung  halamannya, Kurdistan. Cabang  Naqsyabandiyah yang beliau  perkenalkan di sana sepenuhnya  memudarkan pengaruh &#8221; Qadiriyah&#8221;, yang sebelumnya  merupakan tarekat paling  menonjol di wilayah Kurdistan, dan memunculkan sejumlah keluarga  sebagai pemimpin turunan tarekat  itu, serta memegang  kepemimpinan dalam urusan  negara Kurdistan. Hubungan  keturunan Naqsyabandiyah  dengan separatisme Kurdistan, dan kemudian nasionalisme, pertama  kali terlihat dalam pemberontakan besar Kurdistan 1880  yang  dipimpim oleh Ubaidillah dari  Syamdinan, yang berhasil  membebaskan diri, untuk  sementara, sebagian besar orang  Kurdistan Iran dari kendali Iran.<span id="more-52"></span>  Keluarga Barzani juga mampu  mendominasi ungkapan  nasionalisme Irak selama  beberapa puluh tahun melalui  wibawa Naqsabandiyah yang  diwarisinya. Khalidiyah juga mengakar dengan  cepat dan tepat di Daghestan,  wilayah pegunungan yang terletak  di pertemuan Kaukasus dan Rusia  Selatan. Wilayah ini pertama kali  diperkenalkan dengan  Naqsyabandiyah pada akhir abad  ke-18 , tetapi kedatangan  Khalidiyah yang membuat wilayah  itu menjadi daerah Naqsyabandi  semasa hidup Maulana Khalid.  Penekanan ganda Khalidiyah di  Daghestan adalah penggantian  hukum-kebiasaan (cotumary law)  non Islam menjadi syari&#8217;at dan  perlawanan terhadap pemerintah  Rusia. Pemimpin Naqsyabandiyah  pertama untuk orang Daghestan  adalah Ghazi Muhammad, yang  meninggal dibunuh oleh orang  Rusia pada 1832 , dan  penggantinya dua tahun kemudian mengalami nasib yang sama.  Sebaliknya Syamil, yang kemudian  mengambil kepemimpinan  gerakan itu, mampu menahan  Rusia hingga 159 , salah satu  perlawanan Muslim terhadap  imperialisme Eropa yang terlama  dan terkenal. Pengaruh  Naqsyabandiyah di Daghestan  ternyata sulit dicabut; kaum  Naqsyabandiyah aktif dalam  pemberontakan 1877  oleh  Daghestan dan Chechenia yang  berjaya pada rentang waktu antara runtuhnya tsar Rusia dan  pembentukan pemerintahan  Soviet. Wilayah populasi Muslim lain yang  diperintah oleh Rusia yang  ternyata menerima Khalidiyah  adalah Volga-Ural (sekarang  Tatarstan dan Baskira).  Wakil Maulana Khalid di Makkah,  Abdullah Makki (Erzincani),  menerima seorang murid dari  Kazan, Fatsullah Menavusi; namun, yang pengaruhnya terbukti  menentukan adalah pengikut  Ghumushaveni asal Basykar, Syekh  Zainullah Rasulev dari Troisk.  Semula Rasulev adalah pengikut  garis mujaddidiyah yang pergi ke  Bukhara, kemudian mengalihkan  kesetiaanya kepada Gumushaveni  setelah berkunjung ke Istambul  pada 1870.  Ketika kembali, dia  mempropagandakan Khalidiyah  sehingga membangkitkan  permusuhan dari para pesaingnya  dan menimbulkan kecurigaan dari  pihak berwenang Rusia; hal ini  mengakibatkan Rasulev dipenjara  dan diasingkan. Kemudian bebas  lagi pada 1881  dia memperkukuh  dan memperkuat pengikutnya  sehingga ratusan murid berada di  bawah pengaruhnya; mereka tidak  hanya tersebar diwilayah Volga- Ural, tetapi juga di Kazakhstan dan Siberia. Tatkala kematian tiba  pada 1917 , dia disebut sebagai &#8221; raja spiritual rakyatnya&#8221;, dan  setelah kematiannya wibawa  Rasulev tetap terus bergaung  sampai pada periode Soviet: tiga  kepala Direktorat Spiritual untuk  kaum Muslim Rusia Eropa dan  Siberia yang berfungsi di bawah  pengawasan Soviet adalah murid- murid Rasulev. Akhirnya, Khalidiyah memastikan  pula penanaman pengaruh  Naqsyabandiyah secara permanen  di dunia Melayu Indonesia.  Abdullah Makki mempunyai murid  dari Sumatera yaitu Ismail  Minangkabawi. Setelah lama  menetap di Makkah, Minangkabawi menetap di Penyengat wilayah  kepulauan Riau. Di sana, ia  memperoleh kesetiaan dari  keluarga pemerintahan, yang  sudah mulai diperkenalkan pada  Naqsyabandiyah oleh Duta-duta  pemerintah yang dikirim dari  Madinah oleh Muhammad  Mazhhar. Dia juga pergi ke Melayu  hingga Kedah,  mempropagandakan Khalidiyah ke  mana pun ia pergi. Namun  usahanya merupakan rintisan, dan  digantikan oleh kegiatan dua  Khalidiyah yang tinggal di Makkah  yaitu Khalil Hamdi Pasya dan  Syekh Sulaiman Zuhdi. Kenyataan  bahwa kedua orang ini adalah  pesaing, saling menuduh bahwa  yang lainnya adalah menyimpang  dari prinsip Naqsyabandiyah,  menyiratkan betapa dunia Melayu  Indonesia menjadi sumber  pengikut yang kaya untuk  Naqsyabandiyah. Dalam jangka  panjang, Sulaiman Zuhdi lebih  berhasil dari pada pesaingya,  hingga Jabal Abi Qubais di Makkah, tempat dia tinggal, dipandang  sebagai sumber seluruh Tarekat  Naqsyabandiyah di Asia Tenggara.  Di antara murid ini banyak yang  mendirikan Khalidiyah di berbagai  tempat di Sumatera, Jawa dan  Sulawesi, yang paling penting  adalah Abdil Wahab Rokan (w.  1926).  Beliau dikirim dari Makkah  pada tahun 1868  dengan misi  untuk menyebarkan Khalidiyah di  seluruh Sumatera, dari Aceh  sampai Palembang &#8212; misi yang  beliau dilaksanakan dengan sukses besar adalah dari pesantrennya di  Bab Al-Salam, Lengkat-Tinggal  menetap selama tiga tahun di  Johor, dan memungkinkan dia  untuk memperluas pengaruhnya  lebih jauh ke Semenanjung  Malaya. Praktik Naqsyabandiyah di Dunia  Melayu Indonesia sejak dini sangat berbeda dengan adanya ritual  yang disebut dengan suluk, yakni  menyendiri dengan jangka waktu  yang berbeda-beda dan sebagian  diiringi dengan puasa. Asal usul  praktik ini sangat berbeda dengan  tradisi Naqsyabandiyah yang tidak  diketahui. Putusnya hubungan  dengan Makkah akibat penaklukan Hijaz oleh kaum Wahabiyah makin  menambah ciri khas bagi kaum  Naqsyabandiyah di Melayu  Indonesia.</p>
<br />Filed under: <a href='http://ridhs30.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ridhs30.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ridhs30.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ridhs30.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ridhs30.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ridhs30.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ridhs30.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ridhs30.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ridhs30.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ridhs30.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ridhs30.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ridhs30.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ridhs30.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ridhs30.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ridhs30.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridhs30.wordpress.com&amp;blog=15344603&amp;post=52&amp;subd=ridhs30&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ridhs30.wordpress.com/2010/09/06/tarekat-naqsyabandiyah-24/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c4d046eaa938baf42de7751bcc9752fa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ridhs30</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TAREKAT NAQSYABANDIYAH 3/4</title>
		<link>http://ridhs30.wordpress.com/2010/09/06/tarekat-naqsyabandiyah-34/</link>
		<comments>http://ridhs30.wordpress.com/2010/09/06/tarekat-naqsyabandiyah-34/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Sep 2010 05:03:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ridhs30</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ridhs30.wordpress.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Peran Politik Tidak semua perkembangan formatik yang berkenaan dengan Naqsyabandiyah berkaitan dengan Ghulam Ali Dihlavi dan keturunannya. Salah satu keturunan dari Ahmad Sirhindi didirikan di Syur Bazar di pinggiran Kabul pada pertengahan abad ke- 19 , dan para anggota cabang ini memainkan peranan penting dalam urusan negara Afghanistan hingga pembentukan negara pasca Komunis pertama pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridhs30.wordpress.com&amp;blog=15344603&amp;post=50&amp;subd=ridhs30&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Peran Politik       Tidak semua perkembangan  formatik yang berkenaan dengan  Naqsyabandiyah berkaitan dengan Ghulam Ali Dihlavi dan  keturunannya. Salah satu  keturunan dari Ahmad Sirhindi  didirikan di Syur Bazar di pinggiran Kabul pada pertengahan abad ke- 19 , dan para anggota cabang ini  memainkan peranan penting  dalam urusan negara Afghanistan  hingga pembentukan negara pasca Komunis pertama pada tahun  1991.  Di tempat lain di Asia  Tengah, Naqsyabandiyah dari  berbagai keturunan menonjol  dalam perlawanannya terhadap  Rusia dan sesudahnya.<span id="more-50"></span> Dengan demikian pertahanan Goktepe oleh para Turkmen Akhel-Tekke  diarahkan oleh seorang pengikut  Naqysabandiyah, yaitu Muhammad Ali Ihsan (Dukchi Ikhsan).  Naqsyabandiyah juga memimpin  pemberontakan melawan  pemerintah Cina di Xinjing pada  tahun 1863  dan 1864  dan di  Shannxi serta Gunsu antara 1862  dan 1873. Ciri khas yang ditunjukan oleh  kelompok Naqyabandiyah ini  sering digambarkan dalam negara  modern, terutama di Turki. Namun, di Turkli perlawanan  Naqsyabandiyah terhadap  sekulerisme selalu bersifat pasif ( kecuali pemberontakan Sa&#8217;id).  Penggambaran peristiwa Menemen 1931  sebagai konspirasi  Naqsyabandiyah yang  menyebabkan Syekh Muhammad  As&#8217;ad (Mehmed Esad) dihukum  mati secara adil, sekarang  diragukan.  Sejumlah pemimpin  Naqsyabandiyah menjadi orang  penting sebagai guru spiritual dan  intelektual: Mahmud Sami  Ramazanoglu (w. 1984) , pengganti Syekh Muhammad As&#8217;ad. Mehmed  Zahid Kotku (w.1980) , keturunan  spiritual dari Gumushanevi  bersama penggantinya Esad Gosan (sampai sekarang masih hidup)  dan Resit Erol (w. 1994).  Kegiatan  mengajar para syekh ini beserta  syekh lainnya secara alamiah  memiliki pengaruh politik, namun  cenderung mengarah pada  pengintegrasian Naqsyabandiyah  ke dalam struktur Republik Turki,  dan bukan penolakan terhadap  struktur tersebut. Penting dicatat  bahwa beberapa pemimpin  Naqsyabandiyah hadir secara  menonjol di pemakaman Presiden  Turki, Turgut Ozal pada 1993. Kaum Naqsyabandiyah dalam  jumlah dan kekuatan  intelektualnya, tidak dapat  digambarkan secara seragam  dalam Dunia Islam sekarang ini.  Pengaruh mereka mungkin paling  kuat di Turki dan wilayah  Kurdistan, dan yang paling lemah  adalah di Pakistan. Pada masa  pemerintahan Soviet, pengaruh  Naqsyabandiyah sangat terasa  pada gerakan &#8220;Islam bawah tahan&#8221; di Kaukasus Asia Tengah. Namun,  pada akhirnya pemerintahan  Soviet tidak diikuti perkembangan  Naqsyabandiyah di permukaan.  Berbagai Ritual dan Teknik  Spiritual Naqsyabandiyah Seperti tarekat-tarekat yang lain,  Tarekat Naqsyabandiyah itu pun  mempunyai sejumlah tata-cara  peribadatan, teknik spiritual dan  ritual tersendiri. Memang dapat  juga dikatakan bahwa Tarekat  Naqsyabandiyah terdiri atas  ibadah, teknik dan ritual, sebab  demikianlah makna asal dari  istilah thariqah, &#8220;jalan&#8221; atau &#8221; marga&#8221;. Hanya saja kemudian  istilah itu pun mengacu kepada  perkumpulan orang-orang yang  mengamalkan &#8220;jalan&#8221; tadi.  Naqsyabandiyah, sebagai tarekat  terorganisasi, punya sejarah dalam rentangan masa hampir enam  abad, dan penyebaran yang secara geografis meliputi tiga benua.  Maka tidaklah mengherankan  apabila warna dan tata cara  Naqsyabandiyah menunjukkan  aneka variasi mengikuti masa dan  tempat tumbuhnya. Adaptasi  terjadi karena keadaan memang  berubah, dan guru-guru yang  berbeda telah memberikan  penekanan pada aspek yang  berbeda dari asas yang sama,  serta para pembaharu  menghapuskan pola pikir tertentu  atau amalan-amalan tertentu dan  memperkenalkan sesuatu yang  lain. Dalam membaca pembahasan mengenai berbagai pikiran dasar  dan ritual berikut, hendaknya  selalu diingat bahwa dalam  pengamalannya sehari-hari  variasinya tidak sedikit. Asas-asas Penganut Naqsyabandiyah  mengenal sebelas asas Thariqah.  Delapan dari asas itu dirumuskan  oleh &#8216;Abd al-Khaliq Ghuzdawani,  sedangkan sisanya adalah  penambahan oleh Baha&#8217; al-Din  Naqsyaband. Asas-asas ini  disebutkan satu per satu dalam  banyak risalah, termasuk dalam  dua kitab pegangan utama para  penganut Khalidiyah, Jami al-&#8217; Ushul Fi al-&#8217;Auliya. Kitab karya  Ahmad Dhiya&#8217; al-Din  Gumusykhanawi itu dibawa pulang  dari Makkah oleh tidak sedikit  jamaah haji Indonesia pada akhir  abad ke-19  dan awal abad ke-20.  Kitab yang satu lagi, yaitu Tanwir  al-Qulub oleh Muhammad Amin al- Kurdi dicetak ulang di Singapura  dan di Surabaya, dan masih  dipakai secara luas. Uraian dalam  karya-karya ini sebagian besar  mirip dengan uraian Taj al-Din  Zakarya (&#8220;Kakek&#8221; spiritual dari  Yusuf Makassar) sebagaimana  dikutip Trimingham. Masing- masing asas dikenal dengan  namanya dalam bahasa Parsi ( bahasa para Khwajagan dan  kebanyakan penganut  Naqsyabandiyah India). Asas-asasnya &#8216;Abd al-Khaliq  adalah:<br />
1. Hush dar dam: &#8220;sadar sewaktu  bernafas&#8221;. Suatu latihan  konsentrasi: sufi yang  bersangkutan haruslah sadar  setiap menarik nafas,  menghembuskan nafas, dan ketika berhenti sebentar di antara  keduanya. Perhatian pada nafas  dalam keadaan sadar akan Allah,  memberikan kekuatan spiritual  dan membawa orang lebih hampir  kepada Allah; lupa atau kurang  perhatian berarti kematian  spiritual dan membawa orang jauh dari Allah (al-Kurdi).<br />
2. Nazar bar qadam: &#8220;menjaga  langkah&#8221;. Sewaktu berjalan, sang  murid haruslah menjaga langkah- langkahnya, sewaktu duduk  memandang lurus ke depan,  demikianlah agar supaya tujuan- tujuan (ruhani)-nya tidak  dikacaukan oleh segala hal di  sekelilingnya yang tidak relevan.<br />
3. Safar dar watan: &#8220;melakukan  perjalanan di tanah kelahirannya&#8221;. Melakukan perjalanan batin, yakni  meninggalkan segala bentuk  ketidaksempurnaannya sebagai  manusia menuju kesadaran akan  hakikatnya sebagai makhluk yang  mulia. [Atau, dengan penafsiran  lain: suatu perjalanan fisik,  melintasi sekian negeri, untuk  mencari mursyid yang sejati,  kepada siapa seseorang  sepenuhnya pasrah dan dialah  yang akan menjadi perantaranya  dengan Allah (Gumusykhanawi)]<br />
4. Khalwat dar anjuman: &#8220;sepi di  tengah keramaian&#8221;. Berbagai  pengarang memberikan bermacam tafsiran, beberapa dekat pada  konsep &#8220;innerweltliche Askese&#8221;  dalam sosiologi agama Max  Weber. Khalwat bermakna  menyepinya seorang pertapa,  anjuman dapat berarti  perkumpulan tertentu. Beberapa  orang mengartikan asas ini  sebagai &#8220;menyibukkan diri dengan  terus menerus membaca dzikir  tanpa memperhatikan hal-hal  lainnya bahkan sewaktu berada di  tengah keramaian orang&#8221;; yang  lain mengartikan sebagai perintah  untuk turut serta secara aktif  dalam kehidupan bermasyarakat  sementara pada waktu yang sama  hatinya tetap terpaut kepada Allah saja dan selalu wara&#8217;. Keterlibatan  banyak kaum Naqsyabandiyah  secara aktif dalam politik  dilegitimasikan (dan mungkin  dirangsang) dengan mengacu  kepada asas ini.  5. Yad kard: &#8220;ingat&#8221;, &#8220;menyebut&#8221;.  Terus-menerus mengulangi nama  Allah, dzikir tauhid (berisi formula  la ilaha illallah), atau formula  dzikir lainnya yang diberikan oleh  guru seseorang, dalam hati atau  dengan lisan. Oleh sebab itu, bagi  penganut Naqsyabandiyah, dzikir  itu tidak dilakukan sebatas  berjamaah ataupun sendirian  sehabis shalat, tetapi harus terus- menerus, agar di dalam hati  bersemayam kesadaran akan Allah yang permanen.        6. Baz gasyt: &#8220;kembali&#8221;, &#8221;  memperbarui&#8221;. Demi  mengendalikan hati supaya tidak  condong kepada hal-hal yang  menyimpang (melantur), sang  murid harus membaca setelah  dzikir tauhid atau ketika berhenti  sebentar di antara dua nafas,  formula ilahi anta maqsudi wa  ridlaka mathlubi (Ya Tuhanku,  Engkaulah tempatku memohon  dan keridlaan-Mulah yang  kuharapkan). Sewaktu  mengucapkan dzikir, arti dari  kalimat ini haruslah senantiasa  berada di hati seseorang, untuk  mengarahkan perasaannya yang  halus kepada Tuhan semata.<br />
7. Nigah dasyt: &#8220;waspada&#8221;. Yaitu  menjaga pikiran dan perasaan  terus-menerus sewaktu melakukan  dzikir tauhid, untuk mencegah agar pikiran dan perasaan tidak  menyimpang dari kesadaran yang  tetap akan Tuhan, dan untuk  memlihara pikiran dan perilaku  seseorang agar sesuai dengan  makna kalimat tersebut. Al-Kurdi  mengutip seorang guru (anonim): &#8221; Kujaga hatiku selama sepuluh hari; kemudian hatiku menjagaku  selama dua puluh tahun.&#8221;<br />
8. Yad dasyt: &#8220;mengingat kembali&#8221;.  Penglihatan yang diberkahi: secara langsung menangkap Zat Allah,  yang berbeda dari sifat-sifat dan  nama-namanya; mengalami bahwa segalanya berasal dari Allah Yang  Esa dan beraneka ragam ciptaan  terus berlanjut ke tak berhingga.  Penglihatan ini ternyata hanya  mungkin dalam keadaan jadzbah:  itulah derajat ruhani tertinggi yang bisa dicapai. Asas-asas Tambahan dari Baha al-Din Naqsyabandi:<br />
1. Wuquf-i zamani: &#8220;memeriksa  penggunaan waktu seseorang&#8221;.  Mengamati secara teratur  bagaimana seseorang  menghabiskan waktunya. (Al-Kurdi  menyarankan agar ini dikerjakan  setiap dua atau tiga jam). Jika  seseorang secara terus-menerus  sadar dan tenggelam dalam dzikir,  dan melakukan perbuatan terpuji,  hendaklah berterimakasih kepada  Allah, jika seseorang tidak ada  perhatian atau lupa atau  melakukan perbuatan berdosa,  hendaklah ia meminta ampun  kepada-Nya.<br />
2. Wuquf-i &#8216;adadi: &#8220;memeriksa  hitungan dzikir seseorang&#8221;.  Dengan hati-hati beberapa kali  seseorang mengulangi kalimat  dzikir (tanpa pikirannya  mengembara ke mana-mana).  Dzikir itu diucapkan dalam jumlah  hitungan ganjil yang telah  ditetapkan sebelumnya.<br />
3. Wuquf-I qalbi: &#8220;menjaga hati tetap terkontrol&#8221;. Dengan  membayangkan hati seseorang ( yang di dalamnya secara batin  dzikir ditempatkan) berada di  hadirat Allah, maka hati itu tidak  sadar akan yang lain kecuali Allah,  dan dengan demikian perhatian  seseorang secara sempurna selaras dengan dzikir dan maknanya. Taj  al-Din menganjurkan untuk  membayangkan gambar hati  dengan nama Allah terukir di  atasnya.</p>
<br />Filed under: <a href='http://ridhs30.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ridhs30.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ridhs30.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ridhs30.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ridhs30.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ridhs30.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ridhs30.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ridhs30.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ridhs30.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ridhs30.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ridhs30.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ridhs30.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ridhs30.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ridhs30.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ridhs30.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ridhs30.wordpress.com&amp;blog=15344603&amp;post=50&amp;subd=ridhs30&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ridhs30.wordpress.com/2010/09/06/tarekat-naqsyabandiyah-34/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c4d046eaa938baf42de7751bcc9752fa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ridhs30</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
